Analisis Unsur Intrinsik Novel Sang Pencerah
Identitas Novel
Judul :
Sang Pencerah
Penulis : Akmal Nasery Basral
Penerbit : Mizan
Cetakan ke : IV, November 2010
Jumlah halaman : 461 halaman
Tahun terbit : 2010
Profil
Penulis
Biografi
Penulis
Nama lengkapnya adalah Akmal Naseri
Basral. Ia adalah anak dari pasangan Basral Sutan Ma’ruf dan Asmaniar yang
berasal dari Minangkabau. Pria dengan tiga putri ini dilahirkan pada tanggal 28
April 1968 di Jakarta. Pendidikan terakhirnya adalah di jurusan Sosiologi,
Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia.
Sebagai
seorang sastrawan, Akmal Nasery Basral telah menghasilkan beberapa karya
sastra, di antaranya novel Imperia yang merupakan karya pertamanya yang
dibuat pada tahun 2005. Pada tahun 2010 ia menyelesaikan Sang Pencerah,
sebuah novel yang berkisah tentang kehidupan dan perjuangan Ahmad Dahlan yang
dikenal sebagai pendiri organisasi massa Islam Muhammadiyah. Novel tersebut
telah difilmkan dengan sutradara Hanung Bramantyo dan mendapatkan sambutan luas
dari masyarakat.
Pada tahun 2012, Akmal meluncurkan Anak
Sejuta Bintang, novel tentang masa kecil Aburizal Bakrie. Karya Akmal yang
lain, di antaranya cerpen Legenda Bandar Angin pernah dinobatkan sebagai
cerpen terbaik harian pikiran rakyat pada tahun 2006.
Sebelum dikenal sebagai sastrawan, Akmal
merupakan wartawan media cetak. Di dunia jurnalistik, ia memulai kariernya
sejak tahun 1994. Sudah beragam media cetak yang dimasukinya, di antaranya
majalah mingguan Majalah Tempo, Majalah Gatra, Gamma, Travelounge, Koran
Tempo, dan lain-lain. Pada tahun 2002 ia sempat mendirikan dan menjadi pemimpin
redaksi majalah musik MTV Trax. Namun, pada tahun 2010, Akmal meninggalkan
dunia jurnalistik dan memfokuskan pikirannya pada dunia sastra, bahkan lebih
jauh ia juga berkiprah di dunia perfilman dan musik.
Karya-karya :
1. Imperia
(2005)
2. Ada
seseorang di kepalaku yang bukan aku (2006)
3. Legenda
bandar angin (2006)
4. Nagabonar
jadi 2 (2007)
5. Parlemen
undercover : Kisah-kisah Sontoloyo Wakil Rakyat Negeri Indosiasat (2008)
6. Sang
pencerah (2010)
7. Presiden
prawiranegara (2011)
8. Batas
(2011)
9. Anak
sejuta bintang (2012)
10. Tadarus
cinta buya pujangga (2013)
Sinopsis Novel
Sepulang
dari Mekah, Darwis muda (Ihsan Taroreh) mengubah namanya menjadi Ahmad Dahlan.
Seorang pemuda usia 21 tahun yang gelisah atas pelaksanaan syariat Islam yang
melenceng ke arah Bid’ah /sesat.
Melalui Langgar / Surau nya Ahmad Dahlan
(Lukman Sardi) mengawali pergerakan dengan mengubah arah kiblat yang salah di
Masjid Besar Kauman yang mengakibatkan kemarahan seorang kyai penjaga tradisi,
Kyai Penghulu Kamaludiningrat (Slamet Rahardjo) sehingga surau Ahmad Dahlan
dirobohkan karena dianggap mengajarkan aliran sesat. Ahmad Dahlan juga di tuduh
sebagai kyai Kafir hanya karena membuka sekolah yang menempatkan muridnya duduk
di kursi seperti sekolah modern Belanda.
Ahmad Dahlan juga dituduh sebagai kyai Kejawen
hanya karena dekat dengan lingkungan cendekiawan Jawa di Budi Utomo. Tapi
tuduhan tersebut tidak membuat pemuda Kauman itu surut. Dengan ditemani isteri
tercinta, Siti Walidah (Zaskia Adya Mecca) dan lima murid murid setianya :
Sudja (Giring Nidji), Sangidu (Ricky Perdana), Fahrudin (Mario Irwinsyah),
Hisyam (Dennis Adishwara) dan Dirjo (Abdurrahman Arif), Ahmad Dahlan membentuk
organisasi Muhammadiyah dengan tujuan mendidik umat Islam agar berpikiran maju
sesuai dengan perkembangan zaman.
Pendahuluan
1.
Latar
belakang
Indonesia
memiliki banyak sastrawan yang sangat berbakat. Oleh karena itu, tak heran bila
Indonesia memiliki banyak karya sastra yang bahkan bisa diterbitkan hingga ke
luar negeri. Karya-karya yang beredar pun beragam jenisnya. Mulai dari
tema-tema fiksi hingga ke tema yang mengangkat sebuah peristiwa yang telah
terjadi di masa lalu atau yang berkaitan dengan sejarah.
Salah
satu diantaranya adalah novelisasi kehidupan salah satu tokoh yang sangat
berpengaruh di Indonesia hingga kini, yaitu Kiai Haji Ahmad Dahlan. Beliaulah
yang dikenal sebagai pendiri organisasi Muhammadiyah yang mana masih tetap
eksis hingga kini. Sang penulis ingin menyampaikan sejarah Ahmad Dahlan dengan
cara yang lebih mudah dipahami oleh masyarakat dengan menyajikan sebuah novel
yang berjudul Sang Pencerah.
Oleh
karena itu, dirasa perlu untuk kembali membuat analisis novel tentang novel ini
agar para pembaca dapat mengetahui secara tidak langsung unsur-unsur intrinsik
khususnya yang terdapat di dalam novel ini. Selain itu, untuk memenuhi tugas
bahasa indonesia yang diberikan, maka kiranya perlu pula untuk memenuhi
kewajiban ini sebagai bentuk pelaksanaan kewajiban yang harus diselesaikan.
2.
Manfaat
Mudah-mudahan
analisis ini dapat membantu para pembaca untuk mengenal sekilas tentang novel
ini yang di dalamnya menceritakan kehidupan Ahmad Dahlan.
3.
Maksud
dan Tujuan
Maksud dari
penulisan analisis novel sang pencerah ini adalah untuk memberikan gambaran
mengenai isi novel, mulai dari unsur-unsur intrinsik hingga ektrinsik,
sedangkan tujuan dari pembuatan analisis ini adalah untuk memenuhi salah satu
tugas bahasa indonesia.
Permasalahan
·
Bagaimanakah
isi dari unsur intrinsik novel Sang Pencerah karangan Akmal Nasery Basral ?
Analisis Unsur Intrinsik
Sang Pencerah
1.
Tema
Tema merupakan ide pokok yang dipersoalkan dalam karya seni. (Liang Gie,
1976)
Tema merupakan pokok pikiran; dasar cerita (yang dipercakapkan,
dipakai sebagai dasar mengarang, menggubah sajak, dan sebagainya). (KBBI
online)
Tema adalah setiap gagasan,
ide pokok, atau pun pokok persoalan yang digunakan sebagai dasar / landasan
pembuatan cerita. (Ensiklopedi Sastra Indonesia)
Kesimpulan : Tema adalah gagasan atau ide inti yang menjadi sumber
berkembangnya suatu karya.
a.
Mayor
(Pokok)
Tema
mayor adalah tema yang merupakan pusat pikiran cerita atau karya sastra. (berpendidikan.com)
Tema pokok Sang
Pencerah adalah keagamaan. Hal ini ditunjukkan oleh beberapa kutipan novel
berikut :
“Sudah
seharusnya kamu mulai tahu bagaimana proses mufakat di lingkungan Masjid Gedhe
ini terjadi.” Ujar Bapak. (Sang Pencerah,68)
Seluruh
keluargaku sedang berkumpul untuk membicarakan rencana keberangkatanku ke
Makkah untuk memperdalam ilmu agama. (Sang Pencerah, 115)
“Kalau islam
bersatu Islam akan lebih kuat. Karena itulah aku mendirikan Jam’iyyah Nuriyyah
ini untuk membentengi pengaruh buruk yang masuk di Kauman.” Ujar Jazuli pada
satu malam saat tadarusan kepadaku. (Sang Pencerah, 267)
b.
Minor
(Bawahan)
Tema
minor adalah tema yang dilihat dari sudut
pandang lain, misalnya dari kejadiankejadian yang ada dalam cerita.
(berpendidikan.com)
·
Tema
berupa pendidikan sebagaimana terdapat dalam kutipan :
“Banyak, aku
sedang cara membuat perkumpulan dan berorganisasi yang lebih benar, cara
membuat sekolah, cara mengajar. Semua itu untuk mewujudkan cita-citaku mendidik
umat islam supaya kehidupan umat islam di Pulau Jawa ini khususnya bisa lebih
baik,” jelasku. (Sang Pencerah, 343)
·
Tema
berupa cinta sebagaimana yang tercantum dalam kutipan berikut :
...kulihat
Walidah mencuri-curi pandang ke arahku. Kubalas dengan senyum yang membuat
wajah manisnya makin tersipu-sipu.(Sang Pencerah, 89)
·
Tema
berupa sejarah sebagaimana terdapat dalam kutipan :
...poros
utara-selatan dari batas wilayah itu sudah sejak lama diterapkan oleh
kerajaan-kerajaan Jawa sejak Mataram Hindu, Majapahit, Demak, Solo hingga
akhirnya Ngayogyakarta Hadiningrat sebagai pewaris kerajaan Mataram
Baru...(Sang Pencerah, 40)
·
Tema
pertemanan sebagaimana terdapat dalam kutipan :
Saat itu aku
manfaatkan untuk menyerang sisi yang lain, dan... gobak sodoorr! Timku
menang, kami bersorak senang, melonjak-lonjak.(Sang Pencerah, 23)
2.
Alur
Alur adalah rangkaian cerita yang dibentuk dari tahapan-tahapan
kejadian atau peristiwa sehingga menjalani sebuah cerita dapat berbentuk dari
berbagai macam rangkian kejadian ataru peristiwa. (Aminuddin)
Alur atau plot adalah rentetan peristiwa dalam sebuah fiksi (cerpen
dan novel) yang tersusun dalam uraian waktu berdasarkan dari hukum sebab
akibat. (Foster)
Alur bukan hanya sekedar urutan cerita dari A hingga Z, tetapi alur
juga merupakan hubungan sebab akibat peristiwa satu dengan peristiwa lainnya
dalam sebuah cerita. (Rusyana)
Kesimpulan : Alur merupakan rangkaian cerita yang berbentuk
tahapan-tahapan peristiwa yang menunjukkan sebab akibat.
a.
Maju
Pada
alur maju atau disebut juga dengan alur progresif, penulis menyajikan jalan
ceritanya secara berurutan dimuali dari tahapan perkenalan ke tahapan
penyelesaian secara urut dan tidak diacak. (kelasindonesia.com)
Seluruh
keluargaku sedang berkumpul untuk membicarakan rencana keberangkatanku ke
Makkah untuk memperdalam ilmu agama. (Sang Pencerah, 115)
Dan sekarang
aku sedang berada bersama puluhan murid lain dari berbagai negara di salah satu
ruangan Masjidil Haram. (Sang Pencerah, 141)
Aku sedang
berjalan bersama Sangidu di Kauman. (Sang Pencerah, 359)
b.
Mundur
Alur
mundur adalah proses jalannya cerita secara tidak urut. Biasanya pengarang
menyampaikan ceritanya dimulai dari konflik menuju penyelesaian, kemudian
menceritakan kembali latar belakang timbulnya konflik tersebut.
(kelasindonesia.com)
c.
Campuran
Alur
jenis ini adalah gabungan dari alur maju dan alur mundur. Penulis pada awalnya
menyajikan ceritanya secara urut dan kemudian pada suatu waktu, penulis
menceritakan kembali kisah masa lalu atau flash back. (kelasindonesia.com)
3.
Latar
Latar cerita atau setting adalah suatu keadaan yang melingkupi
pelaku pada sebuah cerita. (Suparmin:2009)
Latar adalah tempat, hubungan waktu, dan lingkungan sosial tempat
terjadinya peristiwa-peristiwa yang diceritakan. Latar dalam cerita dapat
diklasifikasikan menjadi latar tempat, latar waktu, dan latar sosial.
(Abrams:1981)
Latar tempat ataupun latar waktu dalam sebuah karya sastra akan
mempengaruhi inti cerita dan pengambilan nilai-nilai yang akan diungkapkan si
pengarang. (Kusnadi:2009)
Kesimpulan : Latar adalah suatu keadaan yang melingkupi tokoh dalam
suatu cerita yang akan mempengaruhi inti cerita.
a.
Tempat
·
Masjid
Gedhe
Aku masuk
menuju halaman Masjid Gedhe dari posisi pagongan sebalah kiri. (Sang
Pencerah, 61)
·
Rumah
Pono
Akhirnya kami
sampai di rumah Pono. (Sang Pencerah, 27)
·
Kereta
Akhirnya saat
memasuki gerbong datang juga. Kami mencari tempat duduk sesuai dengan nomor
yang tercantum di karcis, dan mulai meletakkan barang bawaan. (Sang Pencerah, 257)
·
Langgar
Kidul
Tarawih di
langgar kidul baru saja selesai. (Sang Pencerah, 239)
·
Rumah
Sampai di rumah
aku segera menemui ibu yang sedang berbaring di kamarnya. (Sang Pencerah, 147)
·
Makkah
Kedatanganku di
tanah suci kali ini sangat berbeda dibandingkan kedatangan pertama yang
diniatkan untuk memperdalam ajaran islam. (Sang Pencerah, 297)
b.
Suasana
·
Bahagia
“Allahu Akbar!”
jawab yang lain serempak, termasuk diriku yang kini sedang dilambungkan
perasaan bahagia yang luar biasa. (Sang Pencerah, 265)
·
Sedih
Seluruh
Yogyakarta berdukacita. Masyarakat tak henti-hentinya mengalir dan memanjatkan
doa bagi Bapak. (Sang Pencerah, 169)
·
Marah
Wajah Mas Noor
memerah, cuping hidungnya bergerak cepat, menandakan adanya kemarahan yang dia
coba sembunyikan, tapi tetap tak bisa disembunyikan. (Sang Pencerah, 239)
·
Malu
Sekali lagi aku
tersipu malu karena ibu benar-benar bisa membaca setiap pikiran yang melintas
di pikiranku. (Sang Pencerah, 112)
·
Takut
“Aku ngaji di
tempat lain saja deh, Niel,” bisik anak itu tanpa melihat ke arahku lagi, dan
tanpa ba-bi-bu langsung pergi meninggalkan langgar. Wajah daniel kulihat memucat,
meski dia sudah coba sembunyikan. (Sang Pencerah, 180)
c.
Waktu
Perjalanan awal
sekitar enam jam menempuh jarak Jogja-Semarang pun usai. Waktu menunjukkan
sekitar pukul empat sore. (Sang Pencerah, 125)
“Masya Allah
kalian ini, sudah mau maghrib belum pada pulang juga. Dan kamu Darwis, anak
khatib kok tidak ingat waktu? Bagaimana kalau nanti Kiai Abu Bakar tahu? Ayo
pulang! Bubar semua!” hardik Kiai Kamaludiningrat. (Sang Pencerah, 24)
“Baiklah kalau
begitu, ayo kita percepat persiapan ini sebelum hari terlalu terang dan banyak
orang yang akan bertemu kita di jalan,” kataku. (Sang Pencerah, 256)
d.
Alat
“Bismillahirrahmanirrahim,”
ujarku sambil memplester batu yang akan dijadikan fondasi. (Sang Pencerah, 265)
e.
Sosial
Budaya
Ucapan Bapak
terus terngiang-ngiang. Sebagai orang Jawa dan Muslim, eling kepada orang yang
sudah meninggal itu harus. (Sang Pencerah, 35)
Setiap sore
terdengar pangajian anak-anak putri dari arah Masjid Gedhe, seperti tadi yang
sempat kudengar. (Sang Pencerah, 21)
f.
Lingkungan
Tapi mereka
sudah terlambat. Pintu rumahku sudah terkunci. Sepi. Halaman becek bekas hujan
semalaman hanya menyisakan jejakku dan Walidah dan anak-anak yang meninggalkan
rumah. (Sang Pencerah, 252)
4.
Tokoh
dan Penokohan
Tokoh
Tokoh adalah pelaku
yang mengemban peristiwa dalam
cerita fiksi sehingga
peristiwa itu mampu
mampu menjalin satu cerita. (Aminuddin (2002:79))
Tokoh cerita dalam sebuah karya naratif dapat dibedakan menjadi
beberapa bagian, seperti tokoh utama, tokoh tambahan, tokoh protagonis, dan tokoh
antagonis. (Wahyuningtyas dan Santosa (2011))
Tokoh adalah pemegang peran (peran utama) dalam roman atau drama.
(KBBI online)
Kesimpulan : Tokoh adalah pelaku yang berperan dalam dalam sebuah
cerita
a.
Protagonis
Tokoh
Protagonis adalah tokoh yang mendukung cerita.Tokoh Protagonis biasanya
berwatak baik, dan menjadi idola pembaca atau pendengar.
(ha2bermanfaat.blogspot.com)
·
Darwis
atau Ahmad Dahlan
“Insya Allah,
Sinuhun.” Air muka Kiai Dahlan kini terlihat lebih cerah. (Sang Pencerah, 294)
·
Bapak
Darwis
Bapak tertawa
kecil mendengar kalimat terakhirku. (Sang Pencerah, 168)
·
Ibu
Darwis
Segera setelah
Ibu menemukan posisi yang lebih nyaman, dia mengamatiku. “Masya Allah Wis, kamu
sudah besar sekali sekarang, sudah pantas untuk beristri.”
·
Pono
(teman bermain Darwis)
“Darwis, jangan
lupa nanti malam yasinan di rumahku,” seru Pono dari jauh sambil mengacungkan
tangannya. (Sang Pencerah, 24)
·
Walidah
(Istri Ahmad Dahlan)
Namaku Siti
Walidah binti Muhammad Fadhil. (Sang Pencerah, 93)
·
Mas
Shaleh (kakak ipar Ahmad Dahlan)
Seluruh badanku
bergetar sampai Mas Shaleh memelukku. (Sang Pencerah, 263)
·
Sukar
dan Sakri (murid Ahmad Dahlan)
“Iya Kiai.”
Jawab Sukar dan Sakri bersamaan sembari berlari meninggalkan tempat itu dengan
wajah pucat pasi. (Sang Pencerah, 24)
·
Kiai
Abdul Hamid (guru/kiai Darwis)
Salah seorang
ulama yang sangat aku hormati adalah Kiai Abdul Hamid Lempuyang Wangi. Beliau
orang yang berilmu tinggi, dan sangat sederhana seperti lazimnya para kiai.
(Sang Pencerah, 63)
·
Pakde
Fadhil (mertua Ahmad Dahlan)
“Perubahan
seperti yang diinginkan oleh Syaikh Afghani dan Syaikh Abduh itu tidak apa-apa
sepanjang untuk kebaikan umat, bukan sebaliknya,” ujar Pakde Fadhil yang juga
bapak Mas Noor. (Sang Pencerah, 150)
·
Daniel
(murid Ahmad Dahlan)
“Betul boleh
kiai?” tanya Daniel tak yakin. (Sang Pencerah, 178)
·
Jazuli
(murid Ahmad Dahlan)
“Boleh ndak
kami ikut mengaji di langgar Kiai?” tanya Jazuli. (Sang Pencerah, 178)
·
Sangidu
(murid Ahmad Dahlan)
Murid-muridku
di Langgar Kidul belum terlalu banyak. Yang rutin hanya adik tiriku Muhammad
Sangidu. (Sang Pencerah, 179)
·
Johanah
(anak pertama Ahmad Dahlan)
“Insya Allah.
Kalian juga hati-hati di jalan,” kataku sambil mencium Johanah. (Sang Pencerah,
297)
·
Siraj
(anak kedua Ahmad Dahlan)
Kali ini lebih
banyak dibandingkan keberangkatanku pertama kali 21 tahun lalu karena Sri
Sultan mengizinkan aku mengajak putra keduaku Siraj Dahlan untuk ikut. (Sang
Pencerah, 294)
b.
Antagonis
Tokoh antagonis
adalah tokoh yang menjadi penentang cerita.Tokoh jenis ini sudah pasti berwatak
jahat dan dibenci oleh pembaca dan pendengar. (ha2bermanfaat.blogspot.com)
·
Mas
Noor (kakak ipar Ahmad Dahlan)
Mas Noor tidak
menjawab langsung pertanyaanku, selain mengalihkan pembicaraan. “Apakah kau
belum pernah dengar kabar-kabar yang mengatakan, maaf ya Dimas Dahlan, bahwa
Dimas Dahlan adalah kiai kafir mulai dari bermain biola di langgar, sampai
berbagai protes yang dimas lakukan hampir setiap waktu...” (Sang Pencerah, 229)
·
Kiai
Penghulu Kamaludiningrat (ketua Masjid Gedhe, kiai Darwis)
Badan Kiai
Penghulu bergetar karena amarah. “Siapa yang berbuat lancang seperti ini?”
katanya ke arah para marbut yang ketakutan. (Sang Pencerah, 216)
c.
Tritagonis
Tokoh
tritagonis adalah tokoh pembantu/penengah dalam cerita baik untuk tokoh
protagonis dan antagonis. (ha2bermanfaat.blogspot.com)
·
Kanjeng
Sri Sultan (kepala pemerintahan Yogyakarta)
Suara berat Sri
Sultan terdengar mengisi relung-relung kayu di ruangan itu. “Saya yakin
kepergian Kiai Dahlan ke tanah suci setidaknya untuk sementara bisa meredam
konflik yang terlanjur besar saat ini di Kauman.” (Sang Pencerah, 4)
Penokohan
Penokohan adalah cara pengarang menampilkan tokoh atau pelaku
(Jauhari, 2013: 161)
Penokohan adalah
pelukisan gambaran yang jelas tentang seseorang yang ditampilkan dalam sebuah
cerita (Nurgiyantoro, 1988: 165)
Karakterisasi adalah
pelukisan watak tokoh yang terdapat dalam suatu karya fiksi (Minderop, 2011:
2).
Kesimpulan :
Penokohan adalah pemberian karakter pada tokoh suatu karya.
a.
Analitik
Penggambaran
tokoh secara langsung adalah penggambaran tokoh secara tersurat yang ada di
dalam sebuah cerita. (ragambahasakita.blogspot.com)
Salah seorang
ulama yang sangat aku hormati adalah Kiai Abdul Hamid Lempuyang Wangi. Beliau
orang yang berilmu tinggi, dan sangat sederhana seperti lazimnya para kiai.
(Sang Pencerah, 63)
b.
Dramatik
Teknik
dramatik atau penggambaran tokoh secara tidak langsung disebut juga
penggambaran tokoh secara tersirat yang ada dalam sebuah cerita.
(ragambahasakita.blogspot.com)
Aku sedang
membereskan kitab fiqih dan beberapa catatan pelajaran dari kiai yang
tercerai-berai agar rapi, ketika sudut mataku melihat Nyai Hamid melayani
sejumlah anak yatim piatu untuk makan bersama. (Sang Pencerah, 65)
5.
Sudut
pandang
Sudut pandang
menandakan cara sebuah cerita
diceritakan dan merupakan
pandangan yang dikembangkan
oleh penulis dengan tujuan
agar pembaca disuguhi karakter, aksi,
latar, dan keadaan yang
terdapat dalam cerita
fiksi. (Sardjono:1992)
Sudut pandang adalah cara pengarang
menampilkan para pelaku dalam cerita yang dipaparkan. (Aminuddin:1995)
Sudut pandang disebut juga pusat
narasi adalah penentu gaya dan corak cerita. Watak dan kepribadian pencerita
akan banyak menentukan cerita yang dituturkan kepada pembaca. (Jauhari:2013)
Kesimpulan : Sudut pandang adalah cara pengarang menampilkan tokoh
dalam ceritanya sehingga tampak jelas gaya cerita yang disajikan
a.
Orang
pertama (tokoh utama)
Penulis seolah-olah ‘masuk’ dalam cerita tersebut sebagai tokoh
utama/tokoh sentral dalam cerita (first person central). Segala hal
yang berkaitan dengan pikiran, perasaan, tingkah laku, atau kejadian yang tokoh
“aku" lakukan akan digambarkan pada cerita tersebut. (salamadian.com)
Aku
terus maju beberapa meter sebelum melompat dan menahan bola yang jatuh persis
di dada. “Urgggh!” keluhku spontan. Sempat terasa nyeri karena datangnya bola
yang meluncur keras. (Sang Pencerah, 49)
b.
Orang
pertama (tokoh sampingan)
Pada teknik ini, tokoh “aku" hadir tidak dalam peran utama,
melainkan peran pendukung atau tokoh tambahan (first personal peripheral).
Kehadiran tokoh “aku" dalam cerita berfungsi untuk memberikan penjelasan
tentang cerita kepada pembaca. (salamadian.com)
Aku sedang
membereskan kitab fiqih dan beberapa catatan pelajaran dari kiai yang
tercerai-berai agar rapi, ketika sudut mataku melihat Nyai Hamid melayani
sejumlah anak yatim piatu untuk makan bersama. (Sang Pencerah, 65)
c.
Orang
ketiga (serbatahu)
Pada sudut pandang orang ketiga serba tahu, si penulis akan
menceritakan apa saja terkait tokoh utama. Ia seakan tahu benar tentang watak,
pikiran, perasaan, kejadian, bahkan latar belakang yang mendalangi sebuah
kejadian. Biasanya menggunakan kata ganti “ia”, “dia”. (salamadian.com)
Repotnya
dari tadi siang, Ibu sama sekali tak menyebut-nyebut nama Mas Darwis. Beliau
sibuk di dapur mempersiapkan makanan berbuka untuk Bapak dan kami semua. (Sang
Pencerah, 96)
d.
Orang
ketiga (pengamat)
Pada sudut pandang orang ketiga penulis menceritakan tokoh utama
sebatas pengetahuannya saja. Pengetahuan ini diperoleh dari penangkapan pancaindra
yang digunakan, baik dengan cara mengamati (melihat), mendengar, mengalami,
atau merasakan suatu kejadian di dalam cerita. (salamadian.com)
“Bapak dan Ibu
sudah perhatikan selama ini, Darwis adalah calon suami yang sangat tepat
untukmu. Pengetahuan agamanya bagus, bahasa arabnya lancar, pintar, perilakunya
juga alim tidak seperti orang-orang didikan Belanda yang pintar tapi melupakan
agama,...” (Sang Pencerah, 110)
6.
Gaya
bahasa / Majas
Gaya bahasa merupakan cara yang digunakan oleh pengarang dalam memeparkan
gagasannya sesuai dengan tujuan dan efek yang ingin
dicapai. (Aminuddin:1995)
Gaya bahasa merupakan bentuk retorik, yaitu penggunaan kata-kata
dalam berbicara dan menulis untuk meyakinkan atau mempengaruhi penyimak dan
pembaca. (Tarigan:1985)
Gaya bahasa adalah pemanfaatan atas kekayaan bahasa seseorang dalam
bertutur atau menulis, lebih khusus adalah pemakaian ragam bahasa tertentu
untuk memperoleh efek tertentu. (Harimurti:1993)
Kesimpulan : Gaya bahasa adalah cara berbahasa yang digunakan oleh
penulis untuk memberikan efek tertentu .
a.
Litotes
Majas
litotes adalah gaya bahasa dengan ungkapan yang dikecilkan atau direndahkan
dari kenyataannya. Tujuan penggunaan majas ini adalah sebagai cara untuk
merendahkan diri dihadapan pembaca atau pendengarnya.
(contohmajasku.blogspot.com)
Kalau Bapak
saja yang sudah menjadi imam dan khatib Masjid Gedhe merasa ilmunya tak akan
pernah sebanding dengan Imam Syafi’i, padahal Bapak lebih dekat hubugan
darahnya dengan Syaikh Maulana Malik Ibrahim yang juga ulama besar, mungkinkah
aku akan bisa mendapatkan sebagian kecil saja dari ilmu Imam Syafi’i yang
berlimpah ruah itu ? (Sang Pencerah, 30)
b.
Metafora
Majas
metafora adalah majas yang mengungkapkan perbandingan analogis antara dua hal
yang berbeda. (contohmajasku.blogspot.com)
Cahaya seperti
keluar dari wajahnya. (Sang Pencerah, 36)
c.
Personifikasi
Majas
personifikasi adalah majas yang membandingkan benda-benda mati seperti
seolah-olah memiliki sifat manusia. (contohmajasku.blogspot.com)
Namun aku
sendiri meski sampai tahap tertentu merasakan keinginan setipis angin berdesir
untuk bisa selalu menatap Walidah, urusan pernikahan bukanlah urusan
sembarangan. (Sang Pencerah, 155)
d.
Simile
Majas
simile adalah majas yang membandingkan secara eksplisit antara dua hal dengan
menggunakan kata penghubung layaknya, bagaikan, umpama, ibarat, bak, bagai, dan
lain sebagainya. Sekilas, majas simile mirip dengan majas perumpaman.
(contohmajasku.blogspot.com)
Langit di atas
Yogyakarta bak kanvas raksasa merah tembaga. (Sang Pencerah, 5)
e.
Sarkasme
Majas
sarkasme adalah majas sindiran yang disampaikan dengan konotasi paling kasar.
(contohmajasku.blogspot.com)
“Anak kiai kok
beraninya Cuma ngomong di belakang. Coba kalau berani kamu ulangi lagi
omonganmu itu sekarang!” (Sang Pencerah, 57)
f.
Sinisme
Majas
sinisme adalah majas yang digunakan dengan menyatakan sindiran secara implisit
atau secara langsung. (contohmajasku.blogspot.com)
Mas Noor tidak
menjawab langsung pertanyaanku, selain mengalihkan pembicaraan. “Apakah kau
belum pernah dengar kabar-kabar yang mengatakan, maaf ya Dimas Dahlan, bahwa
Dimas Dahlan adalah kiai kafir mulai dari bermain biola di langgar, sampai
berbagai protes yang dimas lakukan hampir setiap waktu...” (Sang Pencerah, 229)
7.
Amanat
Amanat adalah sebuah ajaran moral atau pesan yang mau disampaikan
oleh pengarang kepada pembaca. (Rusiana:82)
Amanat adalah pesan yang disampaikan oleh pengarang kepada pembaca
lewat tulisan-tulisannya, supaya pembaca dapat menarik sebuah kesimpulan dari
apa yang sudah pembaca nikmati. (Kosasih:2006)
Amanat adalah sebuah gagasan yang menjadi dasar karya sastra, yang
merupakan pesan yang ingin disampaikan seorang pengarang kepada pendengar atau
pembaca. (Siswanti : 2008)
Kesimpulan : Amanat adalah pesan yang disampaikan oleh pengarang
kepada pembaca melalui tulisan atau karyanya.
a.
Tersurat
Amanat
tersurat adalah amanat yang disampaikan secara jelas dan dapat dipahami
sebagaimana adanya (tertulis atau diucapkan). (definisimenurutparaahli.com)
“Seorang
pemimpin yang baik tidak akan meninggalkan keluarga dan umatnya, sebesar apapun
kesulitan yang sedang dihadapinya.” (Sang Pencerah, 260)
“Menurut Bapak,
yang paling penting dalam hidup ini adalah apa pun pekerjaan kita sekarang,
itulah yang harus kita sepenuh hati dan membawa manfaat bagi sebanyak mungkin umat.”
(Sang Pencerah, 21)
b.
Tersirat
Amanat
tersirat adalah amanat yang tidak disampaikan secara langsung tetapi secara
sembunyi-sembunyi yang dapat dimengerti dengan benar-benar memahami keseluruhan
pembicaraan atau tulisan. (definisimenurutparaahli.com)
Dengan cepat aku dekati pengemis itu
dan kuberikan telur asin yang tadinya aku niatkan untuk adik-adikku. (Sang
Pencerah, 33)



Komentar
Posting Komentar