Resensi Novel Negeri di Ujung Tanduk
Judul : Negeri di Ujung Tanduk
Penulis : Tere Liye
Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama
Halaman : 360
Cetakan : ke-8, maret 2015
Jenis Cover : Soft Cover
Kategori : Politik
Text : Bahasa Indonesia
ISBN : 978-979-22-9429-3
Sinopsis
Novel “Negeri
di Ujung Tanduk” menceritakan perjuangan seorang lelaki yang sedang berusaha
untuk melepaskan dirinya dari buronan karena dia terbukti tidak bersalah. Tidak
diceritakan secara detail maksud dari negeri di ujung tanduk ini tetapi kita
bisa melihatnya dari beberapa alur tempat yang diceritakan seperti Bali,
Jakarta, dan beberapa tempat lainnya. Serta masalah-masalah yang sedang
dihadapi di negeri ini sedikit disinggung.
Kehidupan
semakin rusak bukan karena orang jahat semakin banyak, tetapi semakin banyak
orang yang memilih tidak peduli lagi. Novel ini menceritakan perjuangan yang
dilakukan oleh seorang lelaki bermata sipit yang tengah berjuang menyelamatkan
hidupnya dari ancaman para mafia hukum. Pekerjaannya menuntut dirinya untuk
selalu waspada terhadap segala hal yang berbau politik. Belum lagi Maryam,
gadis wartawan yang ikut terlibat dalam aksinya.
Thomas, tokoh
utama dalam novel ini digambarkan sebagai sosok dengan style khasnya, tampan,
rapi, dan balutan eksekutif muda yang cerdas dan berpengaruh tetap melekat
padanya.
Menjadi
konsultan strategi politik, Thomas telah berhasil mengantar dua kliennya
memenangkan pemilihan gubernur. Ia sukses menunjukkan bahwa kompetisi politik
bisa dimenangkan dengan kalkukasi yang cermat. Bagi Thomas sendiri, politik
tidak lebih adalah permainan terbesar dalam bisnis omong kosong, sebuah
industri artifisial penuh kosmetik yang pernah ada di dunia. Setahun sebelumnya,
setelah kasus penyelamatan Bank Semesta, dalam penerbangan menuju London,
Thomas bertemu JD, mantan wali kota dan gubernur yang dikenal sebagai figur
muda yang sederhana dan bersih. Pertemuan itu menjadi momen penting dalam hidup
Thomas. Percakapan dengan JD menginspirasi Thomas untuk terlibat dalam
dunia politik.
Dalam sosok JD
Thomas menemukan jawaban dari pertanyaan yang melindap dalam benaknya terkait
sosok politikus dengan kemuliaan dan kelurusan hati bak Gandhi atau Nelson
Mandela. Maka, Thomas pun menawarkan diri menjadi konsultan strategi demi
mewujudkan penegakan hukum yang dikehendaki JD. Dan karena presiden merupakan
pemilik komando tertinggi bagi penegakan hukum di Indonesia, cita-cita JD hanya
bisa direalisasikan dengan menjadi presiden.
Menjelang
konvensi partai yang akan mengumumkan secara resmi kandidat presiden dari
partai yang menominasikan JD, mendadak terjadi terjadi peristiwa yang tidak
diantisipasi Thomas sebelumnya. Terjadi ekskalasi besar-besaran dari peserta
konvensi yang ditandai dengan manuver raksasa yang dilakukan pihak lawan JD.
Situasi yang berkembang tidak terduga itu membuat JD meminta Thomas yang berada
di Hong Kong untuk kembali ke Jakarta. Tapi sebelum Thomas meninggalkan Hong
Kong, seusai konferensi mengenai komunikasi dan pencitraan politik, ia
ditangkap satuan khusus antiteror otoritas Hong Kong. Di dalam kapal yang
digunakan Opa dan Kadek menjemput Thomas di Makau, ditemukan seratus kilogram
bubuk heroin serta setumpuk senjata api dan peledak. Tidak ada hipotesis lain yang
terbentuk di benak Thomas selain bahwa kejadian ini adalah salah satu agenda
serius yang dijalankan pihak lawan JD.
Ditahannya
Thomas di Hong Kong, membuat ia tidak bisa hadir di konvensi partai. Untunglah
ada Lee, pengusaha Hong Kong yang dikalahkannya dalam pertarungan di Makau. Lee
berhasil meloloskan Thomas dan mengatur perjalanan pulang Thomas ke Indonesia.
Setibanya di Jakarta, Thomas disambar berita penangkapan kliennya. JD
ditetapkan sebagai tersangka korupsi megaproyek tunnel raksasa selama menjabat
sebagai gubernur ibu kota. Penangkapan itu tak pelak lagi disinyalir Thomas
sebagai upaya pembunuhan karakter untuk mencemarkan reputasi cemerlang JD.
Kemungkinan besar, JD akan didiskualifikasi dari kandidat calon presiden
partai. Maka sebelum notifikasi pelariannya dari Hong Kong menyebar ke seluruh
jaringan interpol dunia dan menobatkannya menjadi buruan internasional, Thomas
harus bergerak cepat memperjuangkan nasib kliennya. Ia harus pergi ke Denpasar
untuk melakukan konsolidasi para pendukung JD. Tapi hal itu pun tetap tidak
mudah. Karena seperti dugaan Thomas, ada kelompok yang disebutnya sebagai mafia
hukum, bergerak di belakang setiap kejadian itu. Apakah Thomas bisa menghadiri
konvensi partai dan mengembalikan kepercayaan semua pendukung JD? Hingga pada
akhirnya ia menyadari, sesungguhnya ia sedang berhadapan dengan para pendiri
benteng kekuasaan yang mampu melakukan apa saja demi pencapaian tujuan mereka.
Dan sebagai pemimpinnya adalah bedebah yang menyeruak dari puing-puing masa
lalu Thomas. Diakhir cerita, Thomas bisa dibilang beruntung karena memiliki
teman-teman yang peduli dan peka terhadap pekerjaannya. Thomas mengakhiri
konfliknya dan mendapat bantuan dari teman-temannya saat sedang terpojok.
Kelebihan
Novel ini memberikan
inspirasi dan motivasi kepada para pembaca, agar selalu mengutamakan kepentingan bersama dibanding
kepentingan umum, bekerja keras untuk mencapai suatu tujuan, dan tidak mudah
menyerah, disamping itu juga bahasa yang digunakan cukup akrab dan alur yang
mendebarkan!
Kekurangan
Banyak
menggunakan bahasa politik, sehingga bagi
pembaca awam cukup kesulitan memahaminya.
Komentar
Novel ‘’ Negeri di Ujung Tanduk” ini sangat bagus karena
banyak meniginspirasi dan motivasi. Penulisannya yang
apik membuat jalan ceritanya menarik dan seru.

mudah-mudahan bermanfaat... :-)
BalasHapus