Jenderal Soedirman


Panglima Besar TNI


“Meskipun kamu mendapat latihan jasmani yang sehebat-hebatnya, tidak akan berguna jika kamu mempunyai sifat menyerah! Kepandaian yang bagaimanapun tingginya, tidak ada gunanya jika orang itu mempunyai sifat menyerah! Tentara akan hidup sampai akhir jaman, tentara akan timbul dan tenggelam bersama negara!” (Soedirman)
    

Siapa tak kenal dengan sosok yang sangat berwibawa ini? Bahkan dengan semangat juangnya, ia tak sempat untuk memikirkan diri sendiri, tak sempat memikirkan nasibnya sendiri, tak sempat memikirkan keadaan fisiknya dan memang dengan tingginya semangat juangnya itulah secara totalitas ia abdikan untuk memberikan kemerdekaan kepada bangsanya, Indonesia. Tak hanya itu, sosok dengan nama lengkap Raden Soedirman ini dikenal sebagai sosok yang sangat taat dalam beragama, disamping semangat juangnya yang nasionalis.
Tak sering kita jumpai sesosok yang memiliki karakter semangat juang yang disertai dengan taatnya beragama dan telah menjadi seorang panglima besar di usia yang baru berumur 29 tahun. Seperti disebutkan di awal, Panglima Besar Jenderal Sudirman, begitu ia dikenal sekarang adalah pahlawan nasional yang bahkan tidak sempat memikirkan diri sendiri jika sudah berhadapan dengan apa yang disebut sebagai perjuangan meraih kemerdekaan. Ia akan dengan penuh semangat mudanya akan mempertaruhkan apa yang ia miliki demi satu tujuan, kemerdekaan dan kedamaian. Bagaimana tidak, bahkan dalam usia mudanya, ia sudah menjadi panglima besar, dan dalam jabatannya itu ia rela memimpin pasukan menumpas penjajahan sedangkan hanya sebelah saja dari paru-parunya yang berfungsi normal saat itu disebabkan penyakit TBCnya.



Masa Kecil dan Pendidikan
            Di usia tujuh tahun, Sudirman masuk di HIS (hollandsch inlandsche school) atau sekolah pribumi. ia kemudian pindah ke sekolah milik Taman Siswa pada tahun ketujuhnya bersekolah. Tahun berikutnya ia pindah ke Sekolah Wirotomo disebabkan sekolah milik taman siswa dianggap sebagai sekolah liar oleh pemerintah Belanda.
Sudirman diketahui sangat taat dalam beragama. ia mempelajari keislaman dibawah bimbingan Raden Muhammad Kholil. Teman-teman Sudirman bahkan menjulukinya sebagai ‘Haji’. Ia sering berceramah dan rajin dalam belajar. Di Wirotomo pula, Sudirman ikut mendirikan organisasi islam bernama Hizbul Wathan milik Muhammadiyah. Beliau juga menjadi pemimpin organisasi tersebut pada cabang Cilacap setelah lulus dari Wirotomo.
Setelah lulus, ia kembali belajar di Kweekschool, sekolah khusus calon guru milik Muhammadiyah pada zaman Hindia Belanda. namun berhenti karena kekurangan biaya. Sudirman kembali ke Cilacap dan mulai mengajar di sekolah dasar Muhammadiyah. Disini pula ia bertemu dengan Alfiah, temannya sewaktu sekolah yang kemudian mereka menikah. Selama mengajar di sekolah tersebut, beliau juga aktif dalam perkumpulan organisasi pemuda Muhammadiayah. Setelah Jepang berhasil menduduki Indonesia pada tahun 1942. Perubahan kekuasaan mulai terlihat. Jepang menutup sekoalh tempat Sudirman mengajar dan mengalihfungsikannya menjadi pos militer. Di tahun 1944, Sudirman menjabat perwakilan di dewan karesidenan yang dibentuk oleh Jepang. Dan tak lama kemudian Sudirman diminta untuk bergabung dalam tentara PETA (Pembela Tanah Air) oleh Jepang.
 
Perjuangan dalam Militer
            Ketika pendudukan Jepang, ia masuk tentara Pembela Tanah Air (Peta) di Bogor yang begitu tamat pendidikan, langsung menjadi Komandan Batalyon di Kroya. Menjadi Panglima Divisi V/Banyumas sesudah TKR terbentuk, dan akhirnya terpilih menjadi Panglima Angkatan Perang Republik Indonesia (Panglima TNI).
Setelah proklamasi kemerdekaan Indonesia, Pemerintah mendirikan BKR (Badan Keamanan Rakyat) dan melebur PETA kedalamnya.Presiden Soekarno kemudian membentuk TKR (Tentara Keamanan Rakyat). Dimana personilnya berasal dari mantan KNIL, PETA dan Heiho. Ketika pasukan sekutu datang ke Indonesia, Sudirman yang kala itu menjabat sebagai kolonel mengirim pasukan untuk mengusir Inggris serta Belanda dari Ambarawa.

Pada tanggal 12 November 1945, Sudirman yang kala itu berumur 29 tahun terpilih sebagai pemimpin TKR. Sudirman kemudian dipromosikan sebagai seorang Jenderal.
Pada saat pasukan Belanda kembali melakukan agresinya atau yang lebih dikenal dengan Agresi Militer II Belanda, Ibukota Negara RI berada di Yogyakarta sebab Kota Jakarta sebelumnya sudah dikuasai. Mengingat saat itu ia sedang sakit karena paru-parunya yang sehat tinggal satu, maka dengan ditandu, ia berangkat memimpin pasukan untuk melakukan perang gerilya. Maka kemudian teringatlah ungkapan Sudirman ketika Soekarno menganjurkannya untuk tetap beristirahat :
Yang sakit itu Sudirman, panglima besar tidak pernah sakit.

Wafatnya Jenderal Sudirman

Penyakit TBC yang menggerogoti Jenderal Sudirman kala itu kian parah. Jenderal Sudirman kala itu jarang tampil karena sedang dirawat di Sanatorium diwilayah Pakem dan kemudian pindah ke Magelang pada bulan desember 1949. Pada tahun itu pula setelah Belanda mengakui kedaulatan Indonesia, Jenderal Soedirman saat itu juga diangkat sebagai Panglima Besar TNI.
Setelah berjuang keras melawan penyakitnya, Pada tangal 29 Januari 1950, Panglima Besar Sudirman wafat di Magelang. Beliau dimakamkan disamping makam jenderal urip  Sumoharjo. Jenderal Sudirman kemudian dinobatkan sebagai Pahlawan Pembela Kemerdekaan.
Sebuah syair yang pernah dibuatnya untuk memberikan rasa terima kasihnya kepada rumah sakit dan para dokter serta perawat yang telah merawatnya selama sakit,
RUMAH NAN BAHAGIA

Seperempat abad lamanya, 
Tegak berdiri hingga kini, 
Panti Rapih rumah nan bahagia, 
Naungan Putra Pertiwi.

Orang sakit nan menderita
Giring tiba sehatlah pergi, 
Berkat kegiatan usaha, 
Beserta kesucian hati.

Selama tegak dan teguhnya, 
Besar jasanya hingga kini, 
Seluruh pengurus pegawainya, 
Iklas serta jujur pekerti.

Sambil baring aku berdoa, 
Tuhan Allah Yang Maha Suci, 
Limpahkan berkat karunia, 
Atas rumah bahagia ini.

Moga kiranya terus berjasa, 
Dulu, kini dan hari nanti, 
Untuk masyarakat Indonesia, 
Yang tetap merdeka abadi.
Source :
1.        https://www.biografiku.com/biografi-jenderal-sudirman/
2.        https://id.wikipedia.org/wiki/Soedirman
3.        https://www.vebma.com/fakta/34-fakta-panglima-besar-soedirman/8072
4.        https://jagokata.com/kutipan/dari-jenderal_soedirman.html
           

Komentar

Postingan Populer