Ilmu Al-Qur an di Mesir
Ilmu Al-Qur an di Mesir
Al-Quran
adalah kitab suci umat muslim yang diturunkan oleh Allah swt. kepada Nabi
Muhammad saw., dan dijadikan pedoman dalam menuntun hidup ke jalan yang benar
dan diridhoi-Nya. Sebelumnya, kitab-kitab yang Allah turunkan kepada nabinya
pun sudah banyak. Diantaranya kitab Taurat, kitab zabur dan kitab Injil. Namun,
ketiga kitab tersebut hanyalah berlaku kepada ummat nabi yang dipimpinnya.
Selain itu juga, ketiga kitab
tersebut masih dapat dipalsukan dan dipermainkan oleh orang-orang. Berbeda halnya
dengan Al-Qur an, dimana kitab suci ini berlaku kepada seluruh ummat manusia yang
ada, khususnya ummat islam. Juga tidak ada sesosok makhluk pun yang dapat
menyamainya, apalagi merubahnya. Hal ini karena Allah sendiri yang telah
menjamin kebenaran dan keaslian Al- Qur an hingga waktu yng telah
ditetapkan-Nya.
Di zaman awal nabi Muhamad
saw. diangkat menjadi rasul, Al-Qur an dijadikan bahan ejekan, hinaan dan
cacian kaum kafir Quraisy. Mereka menganggap bahwa Al-Qur an adalah kitab
karangan nabi, dan mereka ingin eksistensi tuhan mereka, yaitu berhala-berhala,
tidak hancur reputasinya oleh ajaran Qu ran yang sebagian ajarannya dianggap
tidak masuk akal. Mereka juga tidak ingin ajaran mereka ditinggalkan oleh
ajaran nabi. Padahal mereka tahu bahwa nabi Muhammad adalah orang yang paling
jujur dan paling baik sebelumnya.
Namun, seiring
berjalannya waktu, dengan sabarnya nabi terus menyampaikan kebenaran-kebenaran
Al-Qur an. Hingga kemudian banyak yang tersadar dan menjadi pengikut nabi
Muhammad saw. Diantara sahabat-sahabat beliau yang terkenal dalam bidanh Al-qur
an ada Abu Darda, Zaid bin Tsabit, Muadz bin Jabal dan Abdullah bin Mas’ud. Merekalah
yang membantu nabi dalam menyiarkan Al-Qur’an di Makkah, lalu ke Madinah dan
bahkan ke kerajaan lain yang masih belum memeluk islam.
Di zaman Abu Bakar
as-shiddiq, ketika para penentang ayat-ayat Allah kembali muncul ke permukaan,
bahkan ada yang mengaku sebagai nabi penerus Muhammad, yang bernama Musailamah
al-Kadzdzab, Abu Bakar memerintahkan pasukan Khalid bin Walid menumpas mereka. Namun,
resikonya adalah banyak para penghafal Al-Qur an yang syahid saat itu. Sehingga
diusulkanlah pembuatan mushaf Al-Qur an kepada Khalifah, dan disetujui. Pembuatan
mushaf tersebut merupakan pembuatan mushaf pertama kalinya. Walaupun sebelumnya
ada sedikit perdebatan mengenai penulisan mushaf ini. Dikarenakan adanya
kekhawatiran Abu Bakar akan adanya bid’ah dan lemahnya jiwa kaum muslim dalam menghafal
Al-Qur an, karena bergantung kepada mushaf.
Di zaman
pemerintahan Khalifah Utsman bin Affan, kembali diadakan pengembangan dan
perawatan Al-Qur an lebih lanjut. Pada masanya, Al-Qur an di tertibkan
urutannya berdasarkan apa yang pernah mereka dengar dari nabi Muhammad saw.
mengenai urutan surah Al-Qur an. Selain itu juga, dihimpunnya kembali Al-Qur an
disebabkan oleh banyaknya bacaan yang berbeda sehingga saling berselisih satu
sama lain. Maka dihimpunlah kembali mushaf Al-Qur an dan kemudian disebarkan
kembali ke negeri-negeri islam.
Al-Qur
an terus berkembang dan terus disempurnakan, mulai dari pengadaan tanda baca
atau harakat, pengaturan mad atau panjang pendeknya bacaan, gaya penulisan atau
khat, dan qiraat atau bacaan Al-Qur an. Kemudian setelah tercetak, disebarkan
ke seluruh penjuru dunia. Agar ummat manusia khususnya yang muslim dapat
mempelajari Al-Qur an dengan baik dan dengan standar yang sama, sehingga
memudahkan pemahaman ummat.
Naskah al-Qur an
yang tercetak sebagai standar masa kini dan dipakai oleh umat muslim di dunia
adalah edisi mesir atau edisi Raja Fuad, karena beliaulah yang
memperkenalkannya di Mesir. Mesir juga merupakan pusat pembelajaran islam
setelah kota Makkah dan Madinah, karena mesir pernah menjadi pusat peradaban
islam di masa lalu dan akan terus menjadi pusat ilmu pengetahuan dan Al-Qur an.
Dimana banyak ilmuan yang lahir dari Mesir membawa perubahan pada islam.
Di dalam Al-Qur
an, negeri Mesir sendiri disebutkan sebagai negeri yang makmur. Diceritakan pada
zaman nabi Yusuf, dimana saat musim kemarau berkepanjangan banyak orang-orang
yang kelaparan, termasuk anggota keluarganya. Mereka pergi ke Mesir untuk
meminta makanan dari raja mesir yang ternyata adalah saudara mereka, nabi Yusuf
as. Selain itu juga diceritakan tentang bagaimana nabi Musa as. mengajak
kaumnya dan Fir’aun di Mesir untuk kembali kepada ajaran yang benar dan lurus. Kisah
lainnya adalah tentang bagaimana Fir’aun dengan sombongnya menyatakan dirinya
sebagai tuhan dan menantang nabi Musa untuk memperlihatkan tuhannya. Dikabarkan
bahwa piramida-piramida yang ada di Mesir merupakan piramida buatan Fir’aun
untuk melihat Allah swt.
Dalam ilmu Al-Qur an
terdapat ilmu tafsir yang hingga sekarang masih terus dipelajari oleh umat
muslim. Di masanya, ilmu-ilmu ini dipelajari oleh para ahli tafsir dan mereka
membukukannya sehingga mudah untuk dipelajari. Dari Mesir, terdapat banyak ahli
tafsir, salah satunya ada syaikh Sayyid Quthub, yang menciptakan kitab tafsir
Al-Qur an. Meskipun dalam prakteknya banyak karyanya yang ditentang oleh
sebagian masyarakat. Diantara karya-karyanya adalah Al-Adala
al-Ijtima'iyya fi'l-Islam, Ma'rakat al-Islam wa'l-Ra's Maliyya, Al-Salam
al-'Alami wa'l-Islam .
Selain itu, ada pula Muhammad
Abduh. Ia adalah seorang pemikir muslim dan penggagas gerakan modernisasi
islam. Pemikirannya banyak terinspirasi dari Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah. Selain
itu, ia juga belajar logika dan filsafat di Universitas Al-Azhar Kairo, Mesir. Ia
juga pernah diasingkan dari Mesir karena terlibat dalam pemberontakan Urabi. salah satu karya Abduh yang terkenal adalah buku berjudul Risalah at-Tawhid yang diterbitkan pada tahun 1897. Karya-karya tulisnya yang lain adalah tafsir juz ‘amma,
tafsir Al-Qur’anul Hakim, yang kemudian dilanjutkan oleh muridnya yaitu
Muhammad Rasyid Ridha, dan risalah
tauhid.

Komentar
Posting Komentar