The Cruelty of Hulagu-Khan

The Cruelty of Hulaghu Khan
                Begitu menyebut kata Baghdad, mungkin yang pertama kali muncul dalam benak adalah kejayaan, kemewahan, keindahan, dan kemajuan peradaban dan keilmuan. Memang, kota Baghdad adalah kota teristimewa pada kala itu. Dengan keilmuan yang luas, Baghdad bisa mencapai peradaban yang tinggi. Dibandingkan dengan Eropa pada saat itu, Baghdad memang kota yang sangat maju. Baik dari sisi ekonomi, ekonomi, pembangunan dan seni.
                Sebagai contoh, khalifah Ar-Rasyid dan Al-Ma’mun adalah khalifah yang mencoba mengumpulkan buku-buku dari berbagai penjuru. Kemudian buku-buku yang beragam bahasa itu kemudian diterjemahkan kedalam bahasa arab untuk dipelajarioleh umat muslim saat itu. Begitu pula dengan perpustakaan dengan nama “Baitul Hikmah” yang dibangun untuk mencerdaskan ummat islam saat itu. Dimana sedang gencar-gencarnya islam medakwahkan agamanya, disana pula ilmu dan keilmuan dikembangkan.
Hasil gambar untuk hulagu khan                Dengan berkembangnya ilmu pengetahuan, lahirlah banyak ilmuan dan cendekiawan muslim. Sebut saja Muhammad bin Ishaq, ia adalah seorang sejarawan muslim yang pertama kali menuliskan sirat Rasulullah saw. Ada juga Al-ghazali, ia adalah seorang ilmuwan muslim dalam ilmu kalam dan ilmu tasawwuf. Selain itu, kedua imam shahihain, Imam Bukhari dan Imam Muslim pun muncul pada masa ini. Mereka berdua adalah imam hadits yang sampai saat ini hadits-haditsnya masih dijadikan rujukan para ulama hadits maupun kalangan muslim biasa dalam berargumen.
Namun kini, gambaran tentang megaahnya baghdad hanya dapat dijadikan folklore dari mulut ke mulut. Dikarenakan, kita sudah tidak dapat merasakan kejayaan kota ini. Andaikata tidak ada penyerangan membabi buta dari pasukan Tartar, mungkin kita hingga saat ini masih mampu hidup diatas kejayaan dan kemajuan Baghdad, dan mungkin pula kita sebagai ummat muslim tidak akan menjadi tertinggal dari segi keilmuan dari Bangsa Eropa. Oleh sebab itu, penyebab utama dari kehancuran kota ini adalah kebengisan dari pasukan Tartar yang dipimpin oleh seorang kejam, Hulaghu Khan.
Hulaghu adalah pemimpin yang bengis dan kejam. Hingga di setiap sumber sejarah mengatakan bahwa Hulaghu Khan identik dengan kejahatan dan kesadisannya. Hal ini berawal dari penyerangan sekaligus penghabisan darah bagi para penduduk Kota Baghdad, khususnya mereka yang beragama islam. Disana Ia layaknya seorang manusia tanpa hati.
                Hal ini berawal dari pertentangan antara kaum syiah dan ahlussunnah di Baghdad. Dikatakan bahwa dua orang berstatus syiah berhasil memasuki pemerintahan Kota Bahgdad. Mereka adalah Muhammad Al-Alqami Ar-Rafidhi dan Nashiruddin At-Thusi Ar-Rafidhi. Mereka adalah orang syiah Rafidhah yang bisa dikatakan sebagai pemicu timbulnya masalah besar nantinya di Baghdad. Dengan usahanya dalam pemerintahan, ia mencoba memperkecil jumlah pasukan kekhilafahan Abbasiyah.
                Setelah itu, Ibnul Alqami ini mengirim surat kepada pasukan Tartar bahwa Kota Baghdad telah dapat dimasuki dengan mudah. Hal ini dilakukan olehnya karena memang adanya kontradiksi antara Syiah dan Ahlussunnah, dimana Khalifah saat itu termasuk golongan ahlussunnah wal jama’ah. Hingga akhirnya, datanglah pasukan Tartar ke Baghdad di bawah pimpinan Hulaghu Khan. Ketika sampai di Kota Baghdad, Hulaghu Khan megirim utusannya untuk menemui Khalifah Al-Musta’shim agar mau menyerah dan menyerahkan kekuasaannya. Aka tetapi, khlaifah tudak menyetujuinya dan mengancam bahwa bila Hulaghu menyerang Kota Bahdad, maka ia akan segera ditelan oleh azab Allah.
                Mendengar perkataan khalifah tersebut tentunya Hulaghu menjadi kesal dan marah, ia berniat benar-benar akan menghancurkan kota tersebut. Namun, khalifah yang tidak siap secara militer menghadapi pasukan Hulaghu akhirnya tidak dapat berbuat apapun ketika rakyatnya di hancurkan dan wilayahnya dibumi hanguskan. Sang khalifah dibiarkan hidup melihat kotanya yang semakin lama semakin hancur demi kepuasan seorang pemimpin ganas, Hulaghu-Khan. Banyak rakyat yang dibantai, diperkosa dan dijarah hartanya. Mereka tidak pandang bulu dan anti kasihan, sehingga membunuh secara tidak teratu dan tanpa ampun.
                Tidak hanya itu, bangunan yang selama itu telah menjadi suatu tanda bukti kekuatan islam saat itu, dihancurkan pula hingga rata dengan tanah. Masjid-masjid dirobohkan, pembakaan terjadi dimana-mana, rumah sakit di hancurkan. Bahkan, perpustakkan agung baghdad yang mana di dlamnya terapat banyak karya-karya hasil penemuan, buku-buku dan dokumen-dokumen para ilmuan islam di rusak, di ratakan dengan tanah, serta buku-bukunya dibuang ke sungai. Tak heran bila kita pernah mendengar bahwa sungai tigris menjadi hitam airnya dikarenakan tinta-tinta dari buku yang dibuang ke sungai tersebut.
                Disebabkan pasukan mongol lama berada di sana dalam penghancuran kota ini, maka dpat dipastikan pula banyak korban yang mati. Mereka tidak hanya muslim, walaupun dapat dikatakan bahwa mayoritas penduduk disana memang muslim. Sejarah mencatat kematian penduduk disana mencapai ratusan ribu penduduk, bahkan hingga jutaan. Jumlah masyarakat muslim yang terbunuh bisa dibilang sangat banyak, karena mencapai angka jutaan.
                Terakhir, Khalifah sendiri menurut suatu sumber dikabarkan dibunuh dengan cara diinjak-injak oleh kuda. Ia digulung di dalam permadani atau karpet, lalu para pasukan mongol menunggang kuda di atasnya. Karena mereka percaya bahwa apabila seorang penguasa darahnya ditumpahkan, maka bumi akan marah, dan mereka senang akan hal itu. Anaknya semua dibunuh, kecuali satu orang. Ia dibawa ke Mongol dan menikah di sana. Namun, setelah itu tidak ada lagi kabar bahwa ia terlibat dalam peradaban islam.
                Diceritakan bahwa, latar belakang lainnya mengapa Hulaghu-Khan sangat ingin menghancurkan islam adalah dikarenakan ibunya,istri dan sahabat dekatnya. Mereka  merupakan penganut agama kristen fanatik yang sangat memendam kebencian terhadap orang islam. Ditambah lagi,  dendamnya terhadap pasukan muslim di zaman Umar bin Khattab yang telah merebut Persia. Inilah yang menjadi alasan mengapa Hulaghu-Khan begitu bernafsu ketika melakukan pembantaian ini.
                Sejak saat itulah peradaban islam di Baghdad seakan hilang ditelan masa. Apapun yang seharusnya dapat dinikmati oleh umat islam saat ini telah terkubur dalam-dalam di dalam tanah. Namun, semua ini bukanlah akhir dari sebuah perjuangan kaum muslim, karena pada hakikatnya segala apapun yang telah terjadi adalah telah ditakdirkan oleh Allah swt., dan yang telah ditakdirkan pun pasti memiliki pelajaran tersendiri, yang mana apabiala kita sebagai umat muslim dapat mengambil pelajaran dari apa yang telah terjadi tersebuty, niscaya kita akan menadi seorang muslim yang beruntung.  
                 

Komentar

Postingan Populer